PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
Abad ke-21 ditandai sebagai abad
keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21
mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata
kehidupan dalam abad sebelumnya. Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan
sains dan teknologi dalam bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi
informasi dan komunikasi. Mengacu pada pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa
pendidikan dihadapkan pada tantangan yang semakin berat, salah satunya
tantangan tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber
daya manusia yang memiliki kemampuan utuh dalam menghadapi berbagai tantangan
dalam kehidupan.
Era pengetahuan di abad 21 dicirikan
adanya pertautan dalam dunia ilmu pengetahuan secara komprehensif. Era global
serta pengintegrasian teknologi dalam pendidikan, turut mempercepat terjadinya
sinergi pengetahuan lintas bidang ilmu, sehingga melahirkan bidang ilmu baru
seperti: kimiafisik, biokimia, biofisika, bioteknologi, dll. Hal ini merupakan
tantangan terutama dalam dunia pendidikan.
Perubahan yang terjadi pada abad ke-21 menurut
Trilling and Fadel (2009) adalah:
- dunia yang kecil, karena dihubungkan oleh teknologi dan transportasi;
- pertumbuhan yang cepat untuk layanan teknologi dan media informasi;
- pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi perubahan pekerjaan dan pendapatan;
- menekankan pada pengelolaan sumberdaya: air, makanan dan energi;
- kerjasama dalam penanganan pengelolaan lingkungan;
- peningkatan keamanan
Satu ciri
yang paling menonjol pada abad ke-21 adalah semakin bertautnya dunia ilmu
pengetahuan, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat. Dalam
konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan,
telah terbukti semakin menyempitnya dan meleburnya faktor “ruang dan waktu”
yang selama ini aspek penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu
pengetahuan oleh umat manusia (BSNP:2010). P21 (Partnership for 21st Century
Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21
yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan
kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan
pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21, 2015). Framework ini
juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus
dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaannya.
Pada
pembelajaran abad 21 ini terjadi perubahan paradigma belajar yaitu, dari
paradigma teaching menjadi paradigma learning.
Artinya bahwa sebelumnya pembelajaran hanya berpusat pada guru sedangkan saat
ini pembelajaran berpusat pada peserta didik, dalam hal ini guru tidak lagi
menjadi satu-satunya sumber belajar melainkan lebih banyak mengarah sebagai
fasilitator dalam proses belajar. Adapun visi pendidikan abad 21 yang lebih
berdasarkan pada paradigma learning adalah belajar berpikir
yang berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional, belajar berbuat yang
berorientasi pada bagaimana mengatasi masalah, belajar menjadi mandiri yang
berorientasi pada pembentukan karakter, dan belajar hidup bersama yang
berorientasi untuk bersikap toleran dan siap bekerjasama.
Arah pendidikan abad 21 ini sangat
relevan dengan tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum Undang
Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Pendidikan Nasional berfungsi dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Y.M.E,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
PEMBELAJARAN
SAINS ABAD 21
Pada abad 21 ini persaingan dalam
berbagai bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan khususnya pendidikan
sains yang sangat ketat. Kita dihadapkan pada tuntutan akan pentingnya sumber
daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetisi. Sumber daya manusia
yang berkualitas, yang dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas dapat
menjadi kekuatan utama untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam
pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu
pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di Indonesia khususnya
peningkatan mutu pendidikan masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa
IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan
IPTEK.
Pembelajaran IPA yang didasarkan
pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal :
a. Ilmu
pengetahuan (have a body of knowledge),
b. keterampilan
ilmiah (scientific skills),
c. Keterampilan
berpikir (thinking skills) dan
d. Strategi
berpikir (strategy of thinking);
e. Berpikir
kritis dan kreatif (critical and creative thinking);
f. Standar
asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami
siswa dalam pembelajaran (authentic assessment)
Penerapan standar-standar dalam
pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft
skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran
IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang
berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan
pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami
lingkungan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk
mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Pergeseran
paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di
dalam pengembangan kurikulum 2013. Pengembangan kurikulum 2013 dapat
menghasilkan insan Indonesia yang :
Produktif, Kreatif, Inovatif, Dan Afektif , melalui:
Penguatan Sikap (Tahu Mengapa),
Keterampilan (Tahu Bagaimana), Dan Pengetahuan (Tahu Apa) Yang Terintegrasi.
Diakui dalam perkembangan kehidupan
dan ilmu pengetahuan abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun
model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Dalam
kurikulum 2013 ini, mata pelajaran IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama, mata
pelajaran IPA dikemas secara terintegrasi pada keilmuan IPA, terintegrasi
dengan pembentukan karakter. Perubahan pendidikan dan mindset para guru harus
didasarkan pada kecakapan/ketrampilan apa saja yang nantinya dibutuhkan oleh
para siswa di 21st century ini untuk dapat mencapai
partisipasi penuh di masyarakat.
Di era Abad 21, pembelajaran IPA sebaiknya
dilaksanakan secara: inkuiri ilmiah (scientific inquiry) dengan
pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning)untuk
menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thinking) dan
berpikir kritis (critical thinking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan
inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi. Keterampilan
berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir
tingkat tinggi (High Order Thinking Skills) yang jika dijangkau
dengan ranah kognitif pada Taksonomi Bloom berada pada level analisis,
sintesis, evaluasi dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan
karakter dan domain IPA yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap
atau tingkah laku.
Menurut
Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4
prinsip, yaitu: Instruction should be student-centered, Education
should be collaborative, Learning should have context;
dan Schools should be integrated with society. Keempat prinsip
pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols
tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
a. Instruction
should be student-centered
Pengembangan
pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif
mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut
untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi
berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan
kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi
untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge)
yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya.
Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya
masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar
yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing,
yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses
mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
b. Education
should be collaborative
Siswa harus
dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang
yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali
informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi
dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu
dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta
bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga,
sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan
lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling
berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang
telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode
pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
c. Learning
should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru
membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang
sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya.
Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
d. Schools
should be integrated with society
Dalam upaya
mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah
seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya.
Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar
mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa
dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat,
seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk
melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan
kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi.
Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat
tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai
belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang
bertanggung jawab.
KETERAMPILAN ABAD 21
Berbagai
organisasi mencoba merumuskan berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang
diperlukan dalam menghadapi abad ke-21. Namun, satu hal penting yang perlu
diperhatikan adalah bahwa mendidik generasi muda di abad ke-21 tidak bisa hanya
dilakukan melalui satu pendekatan saja.
Wagner (2010) dan Change Leadership
Group dari Universitas Harvard mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan
bertahan hidup yang diperlukan oleh siswa dalam menghadapi kehidupan, dunia
kerja, dan kewarganegaraan di abad ke-21 ditekankan pada tujuh (7)
keterampilan berikut:
(1) kemampuan berpikir kritis dan
pemecahan masalah,
(2) kolaborasi dan kepemimpinan,
(3)
ketangkasan dan kemampuan beradaptasi,
(4) inisiatif dan berjiwa
entrepeneur,
(5) mampu berkomunikasi efektif baik
secara oral maupun tertulis,
(6) mampu mengakses dan menganalisis
informasi, dan
(7) memiliki rasa ingin tahu dan
imajinasi
US-based Partnership for 21st
Century Skills (P21), mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad ke-21
yaitu “The 4Cs”- communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Delors
Report (1996) dari International Commission on Education for the Twenty-first
Century, mengajukan empat visi pembelajaran yaitu pengetahuan,
pemahaman, kompetensi untuk hidup, dan kompetensi untuk bertindak. Selain visi
tersebut juga dirumuskan empat prinsip yang dikenal sebagai empat pilar
pendidikan yaitu learning to know, lerning to do, learning
to be dan learning to live together.
Learning to Know
Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk
memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan materi pengetahuan. Penguasaan materi
merupakan salah satu hal penting bagi siswa di abad ke-21. Siswa juga harus
memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat.Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya
lebih menekankan pada tema pembelajaran interdisipliner. Empat tema
khusus yang relevan dengan kehidupan modern adalah: 1) kesadaran
global; 2) literasi finansial, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan; 3) literasi
kewarganegaraan; dan 4) literasi kesehatan. Tema-tema ini perlu dibelajarkan di
sekolah untuk mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan dan dunia kerja di masa
mendatang dengan lebih baik.
Learning to Do
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam
masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya.
Siswa maupun orang dewasa sama-sama memerlukan pengetahuan akademik dan
terapan, dapat menghubungkan pengetahuan dan keterampilan, kreatif dan adaptif,
serta mampu mentrasformasikan semua aspek tersebut ke dalam keterampilan yang
berharga.
Learning to Be
Keterampilan akademik dan kognitif memang keterampilan
yang penting bagi seorang siswa, namun bukan merupakan satu-satunya
keterampilan yang diperlukan siswa untuk menjadi sukses. Siswa yang memiliki
kompetensi kognitif yang fundamental merupakan pribadi yang berkualitas dan
beridentitas. Siswa seperti ini mampu menanggapi kegagalan serta konflik dan
krisis, serta siap menghadapi dan mengatasi masalah sulit di abad ke-21. Secara
khusus, generasi muda harus mampu bekerja dan belajar bersama dengan beragam
kelompok dalam berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan sosial, dan mampu
beradaptasi dengan perubahan zaman.
Learning to Live Together
Berbagai bukti menunjukkan bahwa
siswa yang bekerja secara kooperatif dapat mencapai level kemampuan yang lebih
tinggi jika ditinjau dari hasil pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan
informasi dalam jangka waktu yang panjang dari pada siswa yang bekerja secara
individu. Belajar bersama akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat
aktif dalam diskusi, senantiasa memantau strategi dan pencapaian belajar mereka
dan menjadi pemikir kritis.
REFERENSI
Trilling and Fadel. 2009. 21st century skills:
learning for life in our times. Jossey Bass: USA
Wagner, John A. & Hollenbeck, John R. 2010. Organizational
Behavior: Securing Competitive Advantage. New Yor: Routledge.
Berdasarkan artikel diatas penulis ingin berdiskusi bersama mengenai
beberapa pertanyaan antara lain:
1. Selain tujuh keterampilan dan kompetensi yang harus dimiiki oleh seorang pendidik (guru) untuk pembelajaran abad ke 21, menurut saudara apa
lagi yang harus dipersiapkan oleh guru agar
benar-benar siap menghadapi pembelajaran abad ke 21 tersebut?
2. Pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan menjadi
ciri utama pada
pendidikan abad 21. Jika kita sebagai seorang pendidik dihadapkan pada kondisi
sekolah yang terbatas pada sarana dan prasarana yang menunjang dalam pendidikan
abad 21, menurut pengalaman saudara, apakah usaha yang dapat kita lakukan agar
tidak tertinggal dibandingkan dengan sekolah memiliki fasilitas yang mamadai?
3. Menurut saudara, apakah pembelajaran
IPA pada kurikulum 2013 revisi 2016 yang telah diimpelementasikan saat ini
sudah dirancang sesuai dengan pembelajaran abad ke-21?
Baiklah saya akan menanggapi pertanyaan nomor 2.
BalasHapusPada abad 21 ini memang teknologi informasi dan komunikasi sangat diperlukan agar tidak tertinggal dibandingkan sekolah lain, tapi kita juga tidak bisa memaksakan keadaan sekolah tersebut. Jadi upaya yang kita lakukan sebagai seorang guru adalah :
- Memanfaatkan lingkungan sekolah sebagai media pembelajaran. misalnya dari rumah kita sudah mempersiapakan bahan ajar yang akan kita ajarkan seperti mendowload video pembelajaran dan kita terapkan saat disekolah , khususnya dalam pembelajaran biologi seperti mengajari membuat tape, tempe, yogourt dll... , dalam pembelajaran fisika melakukan percobaan listrik statis dengan menggunakan potongan kertas kecil dan penggaris plastik yang digosokan ke rambut.
- Meminta siswa/i membaca buku-buku diperpustakaan atau internet dan menuangkannya menjadi sebuah tulisan atau gambar.
- Dan misalnya ada disekolah mempunyai 1 buah laptop/komputer kita bisa menggunakan metode demonstrasi.
Cukuplah anak-anak itu dibekali kesadaran, motivasi, dan rasa percaya diri. Karena kita pasti percaya diantara sekian banyak siswa/i yang kita ajar pasti memiliki kreativitas yang tinggi.
Terima kasih, menurut saudari apakah dengan menggunakan satu buah komputer di sekolah saja sudah bisa efektif dalam menerapkan pembelajaran efektif, khususnya dg metode demonstrasi tersebut
HapusKlo menurut saya bisa. . Terkadang waktu pembelajaran tidak sesuai dengan program yang kita buat dengan berbagai kendala, misal dengan hari libur.. ada kegiatan di sekolah sehingga menyita waktu pembelajaran. Jika tidak memungkinkan melaksakan praktikum maka dapat dilaksanakan metode demonstrasi .
HapusMenghadapi pembelajaran abad 21 kompetensi lainnya yang harus dipersiapkan guru adalah kompetensi profesional, kompetensi pedagogik, kompetensi kepribadian dan kompetensi sosial.
BalasHapusTerima kasih atas komentar nya, dari kompentensi2 ug sudah saudari sampaikan, manakah kompentensi yg benar2 harus dikuasai oleh seorang guru untuk menyonsong pembelajaran abad 21
HapusKarena kebanyakan setiap guru mempunyai kemampuan kompetwnsi yg berbeda
Menyongsong abad 21 semua kompetensi mau tidak mau harus kita tingkatkan, meskipun membutuhkan waktu yang tidak sebentar. Jadi dlm proses peningkatannya yg dapat kita lakukan adalah berkolaborasi bersama rekan guru.
Hapussaya akan menanggapi pertanyaan no 1, yang harus dipersiapkan oleh guru agar benar-benar siap menghadapi pembelajaran abad ke 21 yaitu guru harus profesional tidak lagi sekedar guru yang mampu mengajar dengan baik melainkan guru yang mampu menjadi pembelajar dan agen perubahan sekolah, dan juga mampu menjalin dan mengembangkan hubungan untuk peningkatan mutu pembelajaran di sekolahnya. Untuk itu, guru membutuhkan pengembangan profesional yang efektif yaitu pembimbingan. guru pada abad 21 ditantang untuk melakukan akselerasi terhadap perkembangan informasi dan komunikasi. Kemajuan teknologi informasi telah meningkatkan fleksibelitas dalam pemerolehan ilmu pengetahuan bagi setiap individu baik guru maupun siswa. Konsekuensinya, guru dituntut mampu mengembangkan pendekatan dan strategi pembelajaran yang sesuai dengan perkembangan lingkungan.
BalasHapusterima kasih rahayu
HapusSaya mau menanggapi pertanyaan no.3.. skrg sudah berjalan k 13 revisi 2017 dimana dalam silabus n rpp di tampil kan karakter bangsa dan karakter 4c yang di tuntut dalam pembelajaran abad 21 saat ini. Jd guru brusaha menampilkan karakter yang tercantum dalam rpp.
BalasHapusBukan nya tidak nyambung dengan k 13 rev 2016. Tp itu sudah tidak d pakai lagi. Skrg di pakai rev 2017. Heheeh
HapusSaya akan membahas nomor 1, selain kompetensi dan keterampilan, hal yang perlu dipersiapkan oleh guru adalah ke-profesional-annya, saat mengemban tugas.
BalasHapusSeDikit menambahkan guru jg harus mampu menguasi hal yang berkaitan dengan teknologi dan informasi
Hapusterima laila dan humaira atas saran dan komentarnya
HapusMenurut saya, pembelajaran abad 21 tidak hanya dilakukan dengan teknologi. Sekolah sekolah yg memiliki keterbatasan sarana dan prasarana dlm bidang IT juga dapat menerpakan pembelajaran abad 21. Seperti ulasan saudara diatas, bahwa ciri khas pembelajaran abad 21 adalah student centered, artinya guru tidak lagi mendominasi kelas, guru hanya sebagai fasilitator atau pengarah kegiatan belajar. Kemudian pembelajaran diarahkan agar dapat berfikir kritis, berkolaborasi dan mampu berkomunikasi serta mempunyai kreatifitas yg tinggi. Disini guru dituntut untuk merancang pembelajaran dg baik, alam merupakan sumber belajar yg paling baik dan efektif untk menunjang kegiatan pembelajaran
BalasHapusSaya akan menjawab pertanyaan no 2
BalasHapusJika kita d hadap kan pada sarana dan prasaran yg trbatas. Kita sbg guru harus mampu memamfaatkan sarana yg ada. Maisalnya lingkungan
Trmksh
Setuju dengan pernyataan saudara selvi. Kita bisa memanfaat lingkungan untuk sarana dan prasarana pembelajaran. Terima kasih
HapusSy akan mencoba menjawab nomor 2. Seharusnya kita sebagai guru harus memanfaatkan sarana dn prasarana yang ada di sekolah. Terikasih
BalasHapusTerimakasi saudara wendra atas ulasan artikel anda semoga ini bisa menjadi referensi untk sya.
BalasHapusSAMA SAMA SAUDARI PUTRI
HapusTEIMA KASIH TELAH BERKUNJUNG