Jumat, 28 September 2018

Penerjemah Dokumen Online Gratis - Mempertahankan layout dokumen Anda (Word, PDF, Excel, Powerpoint, OpenOffice, teks)

Penerjemah Dokumen Online Gratis - Mempertahankan layout dokumen Anda (Word, PDF, Excel, Powerpoint, OpenOffice, teks): Layanan online gratis yang menerjemahkan dokumen kantor (Word, Excel, Powerpoint, PDF, OpenOffice, teks) ke dalam beberapa bahasa, dimana layout aslinya tetap dipertahankan. Format file yang didukung: Word: doc, docx; PDF: pdf; Excel: xls, xlsx; Power Point; ppt, pptx; Teks xml, txt ....

Senin, 17 September 2018

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21

Abad ke-21 ditandai sebagai abad keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21 mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata kehidupan dalam abad sebelumnya. Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan sains dan teknologi dalam bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi informasi dan komunikasi. Mengacu pada pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan yang semakin berat, salah satunya tantangan tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber daya manusia yang memiliki kemampuan utuh dalam menghadapi berbagai tantangan dalam kehidupan.
Era pengetahuan di abad 21 dicirikan adanya pertautan dalam dunia ilmu pengetahuan secara komprehensif. Era global serta pengintegrasian teknologi dalam pendidikan, turut mempercepat terjadinya sinergi pengetahuan lintas bidang ilmu, sehingga melahirkan bidang ilmu baru seperti: kimiafisik, biokimia, biofisika, bioteknologi, dll. Hal ini merupakan tantangan terutama dalam dunia pendidikan.
Perubahan yang terjadi pada abad ke-21 menurut Trilling and Fadel (2009) adalah:
  1. dunia yang kecil, karena dihubungkan oleh teknologi dan transportasi;
  2. pertumbuhan yang cepat untuk layanan teknologi dan media informasi;
  3. pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi perubahan pekerjaan dan pendapatan;
  4. menekankan pada pengelolaan sumberdaya: air, makanan dan energi;
  5. kerjasama dalam penanganan pengelolaan lingkungan;
  6. peningkatan keamanan

 Satu ciri yang paling menonjol pada abad ke-21 adalah semakin bertautnya dunia ilmu pengetahuan, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat. Dalam konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan, telah terbukti semakin menyempitnya dan meleburnya faktor “ruang dan waktu” yang selama ini aspek penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu pengetahuan oleh umat manusia (BSNP:2010). P21 (Partnership for 21st Century Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21 yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21, 2015). Framework ini juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaannya.
Pada pembelajaran abad 21 ini terjadi perubahan paradigma belajar yaitu, dari paradigma teaching menjadi paradigma learning. Artinya bahwa sebelumnya pembelajaran hanya berpusat pada guru sedangkan saat ini pembelajaran berpusat pada peserta didik, dalam hal ini guru tidak lagi menjadi satu-satunya sumber belajar melainkan lebih banyak mengarah sebagai fasilitator dalam proses belajar. Adapun visi pendidikan abad 21 yang lebih berdasarkan pada paradigma learning adalah belajar berpikir yang berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional, belajar berbuat yang berorientasi pada bagaimana mengatasi masalah, belajar menjadi mandiri yang berorientasi pada pembentukan karakter, dan belajar hidup bersama yang berorientasi untuk bersikap toleran dan siap bekerjasama.
Arah pendidikan abad 21 ini sangat relevan dengan tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum Undang Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Pendidikan Nasional berfungsi dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Y.M.E, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.

PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
Pada abad 21 ini persaingan dalam berbagai bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan khususnya pendidikan sains yang sangat ketat. Kita dihadapkan pada tuntutan akan pentingnya sumber daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetisi. Sumber daya manusia yang berkualitas, yang dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas dapat menjadi kekuatan utama untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di Indonesia khususnya peningkatan mutu pendidikan masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan IPTEK.
Pembelajaran IPA yang didasarkan pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal :
a.       Ilmu pengetahuan (have a body of knowledge),
b.      keterampilan ilmiah (scientific skills),
c.       Keterampilan berpikir (thinking skills) dan
d.      Strategi berpikir (strategy of thinking);
e.       Berpikir kritis dan kreatif (critical and creative thinking);
f.       Standar asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami siswa dalam pembelajaran (authentic assessment)

Penerapan standar-standar dalam pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami lingkungan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Pergeseran paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di dalam pengembangan kurikulum 2013. Pengembangan kurikulum 2013 dapat menghasilkan insan Indonesia yang :

Produktif, Kreatif, Inovatif, Dan Afektif melalui:

Penguatan Sikap (Tahu Mengapa), Keterampilan (Tahu Bagaimana), Dan Pengetahuan (Tahu Apa) Yang Terintegrasi.

Diakui dalam perkembangan kehidupan dan ilmu pengetahuan abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Dalam kurikulum 2013 ini, mata pelajaran IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama, mata pelajaran IPA dikemas secara terintegrasi pada keilmuan IPA, terintegrasi dengan pembentukan karakter. Perubahan pendidikan dan mindset para guru harus didasarkan pada kecakapan/ketrampilan apa saja yang nantinya dibutuhkan oleh para siswa di 21st century ini untuk dapat mencapai partisipasi penuh di masyarakat.
Di era Abad 21, pembelajaran IPA sebaiknya dilaksanakan secarainkuiri ilmiah (scientific inquiry) dengan pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning)untuk menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thinking) dan berpikir kritis (critical thinking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi. Keterampilan berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir tingkat tinggi (High Order Thinking Skills) yang jika dijangkau dengan ranah kognitif pada Taksonomi Bloom berada pada level analisis, sintesis, evaluasi dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan karakter dan domain IPA yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap atau tingkah laku.
Menurut Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan  ke dalam 4 prinsip, yaitu:  Instruction should be student-centeredEducation should be collaborativeLearning should have context; dan Schools should be integrated with society. Keempat prinsip pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
a.     Instruction should be student-centered
Pengembangan pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge) yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya. Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar yang dilakukannya.  Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing, yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.

b.     Education should be collaborative
Siswa harus dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga, sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
c.     Learning should have context
Pembelajaran tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya. Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.

d.     Schools should be integrated with society
Dalam upaya mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya. Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat, seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya. Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi. Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang bertanggung jawab.

KETERAMPILAN ABAD 21
Berbagai organisasi mencoba merumuskan berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang diperlukan dalam menghadapi abad ke-21. Namun, satu hal penting yang perlu diperhatikan adalah bahwa mendidik generasi muda di abad ke-21 tidak bisa hanya dilakukan melalui satu pendekatan saja.
Wagner (2010) dan Change Leadership Group dari Universitas Harvard mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan bertahan hidup yang diperlukan oleh siswa dalam menghadapi kehidupan, dunia kerja, dan kewarganegaraan di abad ke-21 ditekankan pada tujuh (7) keterampilan berikut:
(1) kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah,
(2) kolaborasi dan kepemimpinan,
(3) ketangkasan dan kemampuan beradaptasi,
(4) inisiatif dan berjiwa entrepeneur,
(5) mampu berkomunikasi efektif baik secara oral maupun tertulis,
(6) mampu mengakses dan menganalisis informasi, dan
(7) memiliki rasa ingin tahu dan imajinasi

US-based Partnership for 21st Century Skills (P21), mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad ke-21 yaitu “The 4Cs”- communication, collaboration, critical thinking, dan creativityDelors Report (1996) dari International Commission on Education for the Twenty-first Century, mengajukan empat visi pembelajaran yaitu pengetahuan, pemahaman, kompetensi untuk hidup, dan kompetensi untuk bertindak. Selain visi tersebut juga dirumuskan empat prinsip yang dikenal sebagai empat pilar pendidikan yaitu learning to know, lerning to do, learning to be dan learning to live together.

Learning to Know
Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan materi pengetahuan. Penguasaan materi merupakan salah satu hal penting bagi siswa di abad ke-21. Siswa juga harus memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat.Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya lebih menekankan pada tema pembelajaran interdisipliner. Empat tema khusus yang relevan dengan kehidupan modern adalah: 1) kesadaran global; 2) literasi finansial, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan; 3) literasi kewarganegaraan; dan 4) literasi kesehatan. Tema-tema ini perlu dibelajarkan di sekolah untuk mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan dan dunia kerja di masa mendatang dengan lebih baik.

Learning to Do
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya. Siswa maupun orang dewasa sama-sama memerlukan pengetahuan akademik dan terapan, dapat menghubungkan pengetahuan dan keterampilan, kreatif dan adaptif, serta mampu mentrasformasikan semua aspek tersebut ke dalam keterampilan yang berharga.

Learning to Be
Keterampilan akademik dan kognitif memang keterampilan yang penting bagi seorang siswa, namun bukan merupakan satu-satunya keterampilan yang diperlukan siswa untuk menjadi sukses. Siswa yang memiliki kompetensi kognitif yang fundamental merupakan pribadi yang berkualitas dan beridentitas. Siswa seperti ini mampu menanggapi kegagalan serta konflik dan krisis, serta siap menghadapi dan mengatasi masalah sulit di abad ke-21. Secara khusus, generasi muda harus mampu bekerja dan belajar bersama dengan beragam kelompok dalam berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan sosial, dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.

Learning to Live Together
Berbagai bukti menunjukkan bahwa siswa yang bekerja secara kooperatif dapat mencapai level kemampuan yang lebih tinggi jika ditinjau dari hasil pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan informasi dalam jangka waktu yang panjang dari pada siswa yang bekerja secara individu. Belajar bersama akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat aktif dalam diskusi, senantiasa memantau strategi dan pencapaian belajar mereka dan menjadi pemikir kritis.

REFERENSI

Trilling and Fadel. 2009. 21st century skills: learning for life in our times. Jossey Bass: USA
Wagner, John A. & Hollenbeck, John R. 2010. Organizational Behavior: Securing Competitive Advantage. New Yor: Routledge.

            Berdasarkan artikel diatas penulis ingin berdiskusi bersama mengenai beberapa pertanyaan antara lain:
1.      Selain tujuh keterampilan dan kompetensi yang harus dimiiki oleh seorang pendidik (guru) untuk pembelajaran abad ke 21, menurut saudara apa lagi yang harus dipersiapkan oleh guru agar  benar-benar siap menghadapi pembelajaran abad ke 21 tersebut?

2.      Pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan menjadi ciri utama pada pendidikan abad 21. Jika kita sebagai seorang pendidik dihadapkan pada kondisi sekolah yang terbatas pada sarana dan prasarana yang menunjang dalam pendidikan abad 21, menurut pengalaman saudara, apakah usaha yang dapat kita lakukan agar tidak tertinggal dibandingkan dengan sekolah memiliki fasilitas yang mamadai?

3.      Menurut saudara, apakah pembelajaran IPA pada kurikulum 2013 revisi 2016 yang telah diimpelementasikan saat ini sudah dirancang sesuai dengan pembelajaran abad ke-21?


Rabu, 12 September 2018

MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF dan KONTEKSTUAL

MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF dan KONTEKSTUAL

1.      Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif didefenisikan sebagai falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap menghormati sesama. Para pelajar bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan tetapi tidak menyetir kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya.
Menurut Deutch dalam Mahmudi (2006:61), pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil belajar mereka. Lebih khusus, Gokhale (1995) mendefinisikan pembelajaran kolaboratif sebagai pembelajaran yang menempatkan siswa dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam bekerja bersama dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan akademik bersama. Setiap siswa dalam suatu kelompok bertanggung jawab terhadap sesama anggota kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa berbagi peran, tugas, dan tanggung jawab guna mencapai kesuksesan bersama.
Pengertian pembelajaran kolaboratif sering disamakan dengan pembelajaran  kooperatif, meski ada juga yang membedakannya. Misalnya, Panitz (1996) mendefinisikan  pembelajaran kooperatif sebagai sekumpulan proses yang dilakuan guru untuk membantu  siswa agar dapat berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan spesifik tertentu. Hal ini  lebih menempatkan guru sebagai pengarah dan mengontrol pembelajaran daripada  memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkolaborasi (Mahmudi,2006:62)

          2.      Langkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif
 Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:
1.      Para siswa dalam kelompok menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2.      Semua siswa dalam kelompok membaca, berdiskusi, dan menulis.
3.      Kelompok kolaboratif bekerja secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis, dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah yang ditemukan sendiri.
4.      Setelah kelompok kolaboratif menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan sendiri-sendiri secara lengkap.
5.      Guru menunjuk salah satu kelompok secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan) untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang 20-30 menit.
6.      Masing-masing siswa dalam kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7.      Laporan masing-masing siswa terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8.      Laporan siswa dikoreksi, dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.

3. Karakteristik Pembelajaran Kolaboratif
Beberapa karakteristik pembelajaran kolaboratif, yakni: 
1.      Ketergantungan positif
Ketergantungan yang positif antarsiswa dalam suatu kelompok menjadi prasyarat terjadinya kerja sama yang positif. Ketergantungan positif akan terjadi jika setiap anggota kelompok menyadari bahwa seseorang tidak dapat berhasil tanpa melibatkan keberhasilan anggota lainnya.
2.       Interaksi
Interaksi antaranggota kelompok menjadi demikian penting karena terdapat aktivitasaktivitas kognitif penting dan kecakapan interpersonal yang dinamis hanya terjadi jika terdapat interaksi yang dinamis. Aktivitas kognitif dan kecakapan interpersonal yang dinamis itu dapat dicapai melalui berbagai aktivitas seperti mempresentasikan hasil diskusi, berbagi pengetahuan dengan anggota kelompok lain, dan mengecek pemahaman. Adanya interaksi antaranggota kelompok memungkinkan terwujudnya sistem dukungan akademik, yakni setiap anggota mepunyai komitmen untuk membantu anggota kelompok lain.
3.      Pertanggungjawaban individu dan kelompok 
Dalam pembelajaran kolaboratif, tidak hanya keberhasilan kelompok saja yang  menjadi perhatian, namun keberhasilan setiap anggota kelompok sangat dipentingkan. Pembelajaran kolaboratif juga dimaksudkan untuk membuat siswa kuat secara individual. Kelompok harus bertanggung jawab dalam hal pencapaian tujuan dan masing-masing anggota kelompok harus bertanggungjawab terhadap kontribusinya dalam kelompok. Pertanggungjawaban individu hanya akan terjadi jika kinerja tiap individu dinilai dan hasilnya diberikan kembali ke kelompok dan individu yang bersangkutan guna memastikan anggota yang memerlukan bantuan, dukungan, atau penguatan belajar. 
4.      Pengembangan kecakapan interpersonal
Perlu disadari bahwa kecakapan sosial tidak secara spontan tampak ketika pembelajaran kolaboratif dilaksanakan. Kecakapan sosial seperti kepemimpinan (leadership), kemampuan membuat keputusan, membangun kepercayaan, berkomunikasi, dan managemen konflik diharapkan dapat terbetuk melalui pembelajaran kolaboratif yang kontinu dan berkesinambungan.
5.      Pembentukan kelompok heterogen
Pembentukan kelompok dilakukan dengan mempertimbangkan agar setiap anggota dapat berdiskusi sehingga mencapai tujuan mereka dan membangun hubungan kerja yang efektif. Dalam pembentukan kelompok perlu dideskripsikan tugas setiap anggota kelompok. Terdapat beberapa prinsip dalam pembentukan kelompok kolaboratif, di antaranya perlunya mengakomodasi heterogenitas siswa, seperti mengkombinasikan siswa yang pendiam dengan siswa yang relatif mudah berkomunikasi, siswa yang rendah diri dan optimistis, siswa yang mempunyai motivasi tinggi dan rendah diri.
6.      Berbagi pengetahuan antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, diyakini pengetahuan mengalir hanya dari guru ke
siswa. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kolaboratif. Dalam pembelajaran
kolaboratif, guru menghargai dan mengembangkan pembelajaran berdasarkan pengetahuan, pengalaman pribadi, strategi, dan budaya yang dibawa siswa.
7.      Berbagi otoritas antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, menetapkan tujuan pembelajaran, mendesain tugastugas belajar, dan menilai (mengevaluasi) apa yang telah dipelajari siswa menjadi otoritas guru secara dominan. Tidak demikian halnya pada pembelajaran kolaboratif. Dalam kelas kolaboratif, guru berbagi oritas dengan siswa dengan cara yang spesifik. Guru melibatkan siswa secara aktif dalam penetapan tujuan belajar, pendesaian tugas-tugas, dan evaluasi ketercapaian tujuan belajar.
8.      Guru sebagai mediator
Dalam pembelajaran kolaboratif, guru berperan sebagai mediator. Dalam hal ini guru
membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, membantu siswa menggambarkan mengenai apa yang harus dikerjakan ketika mereka mengalami masalah, dan membantu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
4. Evaluasi Pembelajaran Kolaboratif
Tidak mudah untuk mengevaluasi pembelajaran kolaboratif. Evaluasi dapat dilakukan  terhadap banyak aspek, tidak hanya pada hasil belajar kognitif. Sebagai contoh, evaluasi  dapat dilakukan terhadap kemampuan siswa berdikusi. Karena memiliki keterbatasan  pengamatan, guru dapat memilih peer evaluation (penilaian teman sebaya). Setiap siswa  harus menilai teman sekelomponya terhadap beberapa aspek.

         5.      Kelebihan dan Kekurangan Model Kolaboratif
a.      Kelebihan
               Ada banyak keunggulan yang bisa didapat dengan collaborative learning oleh siswa antara lain:
1)      melatih rasa peduli, perhatian dan kerelaan untuk berbagi,
2)      meningkatkan rasa penghargaan terhadap orang lain,
3)      melatih kecerdasan emosional,
4)      mengutamakan kepentingan kelompok dibandingkan kepentingan pribadi,
5)      mengasah kecerdasan interpersonal,
6)      melatih kemampuan bekerja sama, team work,
7)      murid tidak malu bertanya kepada temannya sendiri,
8)      meningkatkan motivasi dan suasana belajar.

b.      Kelemahan 
Kelemahan  yang dalam collaborative learning:
1.      Murid yang lebih pintar, bila belum mengerti tujuan yang sesungguhnya dari proses belajar ini, akan merasa sangat dirugikan karena harus repot-repot membantu temannya.
2.      Murid ini juga akan merasa keberatan karena nilai yang ia peroleh ditentukan oleh prestasi atau pencapaian kelompoknya.
3.      Bila kerja sama tidak dapat dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah beberapa murid yang pintar dan aktif saja.


MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL

      1.      Pengertian Pembelajaran Kontekstual (CTL : Contextual Teaching and Learning)
            Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Konstekstual (Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme (Constructivism), bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning Conzmunity), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian sebenarnya (Aunthentic Assesment) (Darmadi, 2017:341)
Sistem pembelajaran kontekstual adalah proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam materi akademik yang mereka pelajari dengan jalan menghubungkan mata pelajaran dengan akademik dengan isi kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks kehidupan pribadi, sosial dan budaya. Pembelajaran kontekstual sebagai suatu model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk mencari, mengolah,dan menemukan pengalaman belajar yang bersifat konkret melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk, akan tetapi yang terpenting adalah proses (Rusman, 2017:322).
Beberapa karakteristik Pembelajaran Berbasis Contextual Teaching and Learning (Sihono,200:80);
a.       Kerjasama
b.      Saling menunjang
c.       Menyenangkan, tidak membosankan
d.      Belajar dengan gairah
e.       Pembelajaran terintegrasi
f.       Menggunakan berbagai sumber
g.      Siswa aktif
h.      Sharing dengan teman
i.        Siswa Kritis, dan Guru Kreatif
j.        Dinding kelas & lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar, artikel, humor, dan lain sebagainya
k.      Laporan kepada orang tua bukan hanya rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa, dan sebagainya.

      2.      Komponen Pembelajaran Kontekstual
Ada tujuh komponen utama dalam pembelajaran kontekstual, yaitu:
a.      Constructivism (Konstruktivisme)
Kontrukstivisme merupakan landasan berpikir pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperkuat melalui konteks yang terbatas (sempit) dan tidak tiba-tiba. Dalam konteks pembelajaran, konstruktivisme lebih menekankan pada aktivitas siswa dalam menemukan pemahaman mereka sendiri daripada kemampuan menghafal teori-teori yang ada dalam buku pelajaran saja. Pada umumnya cara menerapkan komponen ini dalam pembelajaran adalah dengan merancang pembelajaran dalam bentuk siswa bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan, menciptakan ide dan lain sebagainya.

b. Inquiry (Menemukan)
Menemukan merupakan bagian inti dari pembelajaran berbasis CTL, artinya proses pembelajaran didasarkan pada pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Inkuiri merupakan proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, dalam proses ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk memperoleh seperangkat pengetahuan. Untuk merealisasikan komponen inkuiri di kelas, terutama dalam proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus dihafal siswa, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Siklus inkuiri pada umumnya meliputi: observasi (observation), bertanya (questioning), mengajukan dugaan (hypothesis), pengumpulan data (collecting data), dan penyimpulan (conclusion).

c. Questioning (Bertanya)
Semua ilmu pengetahuan yang dimiliki seseorang selalu bermula dari bertanya. Salah satu faktor psikologi yang mendorong seseorang untuk belajar adalah adanya sifat ingin tahu dan ingin menyelidiki apa yang ada dalam kehidupan di dunia yang lebih luas. Bertanya merupakan kegiatan yang sangat pokok dan mendasar bagi guru maupun siswa dalam pembelajaran berbasis CTL. Bertanya merupakan kegiatan utama dari semua aktivitas belajar, karena dengan kegiatan bertanya guru dapat memotivasi bahkan bisa menilai sejauh mana keberanian dan kemampuan berpikir seorang siswa dalam mengkonstruk pengetahuan dan pemahaman yang ingin didapatkannya.
Sedangkan bagi siswa kegiatan bertanya adalah hal penting yang perlu dilakukan dalam pembelajaran berbasis CTL, yakni untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah diketahui, dan me ngarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya. Kegiatan bertanya merupakan interaksi majemuk (multiple interactions) antara guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan antara siswa dengan orang berpengetahuan lainnya. Aktivitas-aktivitas tesebut dapat terlihat jelas pada saat diskusi, kegiatan dalam komunitas/masyarakat belajar, bekerja secara berpasangan (work in pairs or in group)dan lain sebagainya. Dalam pembelajaran, kegiatan questioning memiliki banyak sekali kegunaan diantarnya adalah untuk:
1)      menggali informasi, baik yang bersifat administrasi maupun akademis
2)      mengecek tingkat pemahaman siswa
3)      membangkitkan respon siswa
4)      mengukur sejauh mana rasa keingintahuan siswa
5)      mengetahui hal-hal yang belum diketahui siswa
6)      memfokuskan perhatian siswa pada sesuatu yang dikehendaki guru
7)      memberikan stimulus agar siswa bisa memiliki pertanyaan-pertanyaan yang kreatif, menarik dan menantang
8)      menyegarkan kembali pengetahuan siswa.

d. Learning Community/Society (Kelompok/Masyarakat belajar)
Leo Semenovich Vygotsky, seorang psikolog Rusia, menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak banyak ditopang oleh komunikasi dengan orang lain. Begitu juga dalam kehidupan, suatu permasalahan tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan dan peran orang lain yakni dalam bentuk kerjasama, saling memberi dan menerima. Learning community/society adalah kelompok manusia yang terlibat dalam kegiatan pembelajaran, yang membuat mereka bisa saling bertukar ide dan pengetahuan untuk memperdalam pemahaman terhadap pengetahuan yang mereka miliki. Konsep ini didasarkan pada sebuah gagasan bahwa hasil pembelajaran yang dicapai dengan kerjasama/teamwork akan jauh lebih baik dibandingkan dengan hasil pencapaian individu.
Hasil belajar dalam proses learning community dapat diperoleh dengan carasharing antar teman, antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang pernah memiliki pengalaman membagikan pengalamannya pada orang lain, juga melalui informasi yang didapat di ruang kelas, luar kelas, keluarga, serta masyarakat di lingkungan sekitar yang merupakan bagian dari komponen masyarakat belajar. Dalam kelas CTL, learning community terlihat saat siswa belajar secara berkelompok. Pada umumnya siswa dibagi dalam kelompok yang anggotanya heterogen, baik dari segi kemampuan akademisnya, jenis kelamin, asal daerah, dan lain sebagainya.
Model pembelajaran dengan teknik learning community sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Praktiknya dalam pembelajaran terwujud dalam (Sihono, 2004:78) :
1) pembentukan kelompok kecil
2) pembentukan kelompok besar
3) mendatangkan ahli, tokoh, olahragawan, dokter, perawat, petani, polisi, tukang kayu, teknisi, dan sebagainya ke kelas
4) bekerja dengan kelas sederajat
5) bekerja kelompok dengan kelas di atasnya
6) bekerja dengan masyarakat.

e. Modelling (Pemodelan)
Modelling atau pemodelan adalah sebuah pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, dengan menyediakan model yang bisa diamati dan ditiru oleh setiap siswa. Misalnya: guru fisika memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, guru bahasa mengajarkan bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagianya. Dalam kelas CTL, kegiatan modelling tidak menjadikan guru sebagai satusatunya model dalam belajar, tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang dianggap memiliki kemampuan untuk memperagakan/mendemonstrasikan sesuatu di depan kelas kepada teman-temannya, seorang ahli yang didatangkan di kelas, media belajar dan lain-lain.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi, tuntutan siswa yang semakin berkembang dan beraneka ragam, telah berdampak pada kemampuan guru yang memiliki kemampuan lengkap, dan ini yang sulit dipenuhi. Oleh karena itu, maka kini guru bukan lagi satu-satunua sumber belajar bagi siswa, karean dengan segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa yang cukup heterogen. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatsan yang dimiliki oleh para guru (Rusman, 2017:328).

f. Reflection (Refleksi)
Refleksi berarti upaya think back (berpikir ke belakang) atau kegiatan flash back, yakni berpikir tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu, dan berpikir tentang apa yang baru dipelajari dalam sebuah pembelajaran oleh siswa (Risman,2017: 328). Dalam hal ini siswa mengendapkan apa yang baru dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan kata lain, refleksi merupakan respon terhadap kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.

            g. Authentic Assessment (Penilaian Sebenarnya)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai data yang bisa memberikan gambaran pengetahuan perkembangan belajar siswa. Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran kemajuan belajar siswa, diperlukan sepanjang proses pembelajaran, maka penilaian autentik tidak hanya dilakukan di akhir periode (akhir semester) tetapi dilakukan secara terintegrasi dan secara terus-menerus selama kegiatan pembelajaran berlangsung. Penilaian yang dilakukan menekankan pada proses pembelajaran, maka data yang terkumpul harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
 Menurut Mihmidaty dalam Amali (2012) Penilaian ini memberi isyarat pada para pendidik agar dapat melaksanakan penilaian dengan didukung data yang valid,reliable, dan menyeluruh sehingga hasil yang diperoleh dari penilaian kelas CTL dapat memenuhi sasaran untuk mencapai tujuan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dalam kelas CTL, pada umumnya terdapat empat jenis penilaian autentik, yakni:portofolio, pengukuran kinerja, proyek, dan jawaban tertulis.

      3.      Skenario Pembelajaran Kontekstual
Menurut Rusman (2017:323) Sebelum melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, tentu saja guru terlebih dahulu membuat desain/skenario pembelajarannya, sebagai pedoman umum sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya, setiap pengembangan komponen pembelajaran kontekstual tersebut dalam pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1.      Mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar lebih bermakna dengan apakah dengan cara kerja sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan keterampilan baru yang harus akan dimilikinya.
2. Melaksanakan sejauh mungkin kegiatan Inguiry untuk semua topik yang diajarkan.
4.      Mengembangkan sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
5.      Menciptakan masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan berdiskusi, dan tanya jawab.
6.      Menghadirkan model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media sebenarnya.
7.      Membiasakan anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.
8.      Melakukan penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebanrnya pada setiap siswa
Secara umum, tidak ada perbedaan mendasar antara format program pembelajaran konvensional seperti yang biasa dilakukan oleh guru-guru selama ini. Adapun yang membedakannya, terletak pada penekannanya, dimana pada model konvensional lebih menekankan pada deskipsi tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sementara program pembelajaran kontekstual lebih menekankan skenario pembelajarannya, yaitu tahap demi tahap yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan pembelajaran yang diharapkan.
Oleh karena itu, program pembelajaran kontekstual (CTL) hendaknya (Rusman,2017:330):
1.      Nyatakan kegiatan utama pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar.
2.      Rumuskan dengan jelas tujuan umum pembelajarannya.
3.      Uraikan secara terperinci media dan sumber pembelajaran yang akan digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran yang diharapkan.
4.      Rumuskan skenario tahap demi tahap kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam melakukan prses pembelajarannya,
5.      Rumuskan dan lakukan sistem penilaian dengan menfokuskan pada kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh siswa baik pada saat berlangsungnya (proses) maupun setelah siswa tersebut selesai belajar.

       4.      Kelebihan dan Kekurangan CTL (Contextual Teaching and Learning)
a. Kelebihan
1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil
Artinya siswa dituntut untuk dapat menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata. Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan mudah dilupakan.
2) Pembelajaran lebih produktif
Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran konstruktivisme, yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri. Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar melalui mengalami bukan menghafal

b. Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual diantaranya adalah orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami secara mendasar tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa. Pembelajaran ini pada dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang variatif. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka baik guru maupun siswa perlu melakukan upaya berikut:
1) Bagi Guru
Guru harus memiliki kemampuan untuk memahami secara mendalam tentang konsep pembelajaran itu sendiri, potensi perbedaan individu siswa dikelas, beberapa pendekatan pembelajaran yang berorientasi kepada aktivitas siswa dan sarana, media, alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar.
2) Bagi Siswa
Diperlukan inisiatif dan kreativitas dalam belajar, diantaranya: memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari setiap mata pelajaran, adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan dan memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam meyelesaikan tugas – tugas.
Penulis menyampaikan pertanyaan kepada pembecMenurut pembaca:
1.      Menurut pengalaman saudara, apakah model pembelajaran kolaboratif dan model pembelajaran kontekstual bisa digunakan secara bersamaan? Khususnya pada pembelajaran biologi
2.      Menurut saudara materi biologi apa saja yang bisa diterapkan dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif atau model pembelajaran kontekstual?
3.      Diantara kedua model tersebut manakah yang lebih efektif untuk digunakan jika situasi sarana dan prasarana sekolah yang terbatas?

Mahmudi, A. 2013. Pembelajaran Kolaboratif.Yogyakarta: Pendidikan Matematika UNY
Rusman .2017. Belajar dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana

MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS

Model pembelajaran  adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Mode...