Jumat, 28 September 2018
Penerjemah Dokumen Online Gratis - Mempertahankan layout dokumen Anda (Word, PDF, Excel, Powerpoint, OpenOffice, teks)
Penerjemah Dokumen Online Gratis - Mempertahankan layout dokumen Anda (Word, PDF, Excel, Powerpoint, OpenOffice, teks): Layanan online gratis yang menerjemahkan dokumen kantor (Word, Excel, Powerpoint, PDF, OpenOffice, teks) ke dalam beberapa bahasa, dimana layout aslinya tetap dipertahankan. Format file yang didukung: Word: doc, docx; PDF: pdf; Excel: xls, xlsx; Power Point; ppt, pptx; Teks xml, txt ....
Senin, 17 September 2018
PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
PEMBELAJARAN SAINS ABAD 21
Abad ke-21 ditandai sebagai abad
keterbukaan atau abad globalisasi, artinya kehidupan manusia pada abad ke-21
mengalami perubahan-perubahan yang fundamental yang berbeda dengan tata
kehidupan dalam abad sebelumnya. Abad 21 ditandai oleh pesatnya perkembangan
sains dan teknologi dalam bidang kehidupan di masyarakat, terutama teknologi
informasi dan komunikasi. Mengacu pada pernyataan tersebut mengisyaratkan bahwa
pendidikan dihadapkan pada tantangan yang semakin berat, salah satunya
tantangan tersebut adalah bahwa pendidikan hendaknya mampu menghasilkan sumber
daya manusia yang memiliki kemampuan utuh dalam menghadapi berbagai tantangan
dalam kehidupan.
Era pengetahuan di abad 21 dicirikan
adanya pertautan dalam dunia ilmu pengetahuan secara komprehensif. Era global
serta pengintegrasian teknologi dalam pendidikan, turut mempercepat terjadinya
sinergi pengetahuan lintas bidang ilmu, sehingga melahirkan bidang ilmu baru
seperti: kimiafisik, biokimia, biofisika, bioteknologi, dll. Hal ini merupakan
tantangan terutama dalam dunia pendidikan.
Perubahan yang terjadi pada abad ke-21 menurut
Trilling and Fadel (2009) adalah:
- dunia yang kecil, karena dihubungkan oleh teknologi dan transportasi;
- pertumbuhan yang cepat untuk layanan teknologi dan media informasi;
- pertumbuhan ekonomi global yang mempengaruhi perubahan pekerjaan dan pendapatan;
- menekankan pada pengelolaan sumberdaya: air, makanan dan energi;
- kerjasama dalam penanganan pengelolaan lingkungan;
- peningkatan keamanan
Satu ciri
yang paling menonjol pada abad ke-21 adalah semakin bertautnya dunia ilmu
pengetahuan, sehingga sinergi di antaranya menjadi semakin cepat. Dalam
konteks pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan,
telah terbukti semakin menyempitnya dan meleburnya faktor “ruang dan waktu”
yang selama ini aspek penentu kecepatan dan keberhasilan penguasaan ilmu
pengetahuan oleh umat manusia (BSNP:2010). P21 (Partnership for 21st Century
Learning) mengembangkan framework pembelajaran di abad 21
yang menuntut peserta didik untuk memiliki keterampilan, pengetahuan dan
kemampuan dibidang teknologi, media dan informasi, keterampilan
pembelajaran dan inovasi serta keterampilan hidup dan karir (P21, 2015). Framework ini
juga menjelaskan tentang keterampilan, pengetahuan dan keahlian yang harus
dikuasai agar siswa dapat sukses dalam kehidupan dan pekerjaannya.
Pada
pembelajaran abad 21 ini terjadi perubahan paradigma belajar yaitu, dari
paradigma teaching menjadi paradigma learning.
Artinya bahwa sebelumnya pembelajaran hanya berpusat pada guru sedangkan saat
ini pembelajaran berpusat pada peserta didik, dalam hal ini guru tidak lagi
menjadi satu-satunya sumber belajar melainkan lebih banyak mengarah sebagai
fasilitator dalam proses belajar. Adapun visi pendidikan abad 21 yang lebih
berdasarkan pada paradigma learning adalah belajar berpikir
yang berorientasi pada pengetahuan logis dan rasional, belajar berbuat yang
berorientasi pada bagaimana mengatasi masalah, belajar menjadi mandiri yang
berorientasi pada pembentukan karakter, dan belajar hidup bersama yang
berorientasi untuk bersikap toleran dan siap bekerjasama.
Arah pendidikan abad 21 ini sangat
relevan dengan tujuan pendidikan di Indonesia sebagaimana tercantum Undang
Undang Sisdiknas No. 20 Tahun 2003, Pendidikan Nasional berfungsi dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta
didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Y.M.E,
berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi
warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
PEMBELAJARAN
SAINS ABAD 21
Pada abad 21 ini persaingan dalam
berbagai bidang kehidupan, di antaranya bidang pendidikan khususnya pendidikan
sains yang sangat ketat. Kita dihadapkan pada tuntutan akan pentingnya sumber
daya manusia yang berkualitas serta mampu berkompetisi. Sumber daya manusia
yang berkualitas, yang dihasilkan oleh pendidikan yang berkualitas dapat
menjadi kekuatan utama untuk mengatasi masalah-masalah yang dihadapi dalam
pendidikan. Salah satu cara yang ditempuh adalah melalui peningkatan mutu
pendidikan. Saat ini peningkatan mutu pendidikan di Indonesia khususnya
peningkatan mutu pendidikan masih terus diupayakan karena sangat diyakini bahwa
IPA sebagai ilmu dasar memegang peranan yang sangat penting dalam pengembangan
IPTEK.
Pembelajaran IPA yang didasarkan
pada standar isi akan membentuk siswa yang memiliki bekal :
a. Ilmu
pengetahuan (have a body of knowledge),
b. keterampilan
ilmiah (scientific skills),
c. Keterampilan
berpikir (thinking skills) dan
d. Strategi
berpikir (strategy of thinking);
e. Berpikir
kritis dan kreatif (critical and creative thinking);
f. Standar
asesmen mengevaluasi siswa secara manusiawi artinya sesuai apa yang dialami
siswa dalam pembelajaran (authentic assessment)
Penerapan standar-standar dalam
pembelajaran IPA khususnya empat standar tersebut akan memberikan soft
skill berupa karakter siswa, untuk itu sangat diperlukan pembelajaran
IPA yang menerapkan standar-standar guna membangun karakter siswa. Siswa yang
berkarakter dapat dicirikan apabila siswa memiliki kemampuan mengintegrasikan
pengetahuan, keterampilan-keterampilan dan sikap dalam usaha untuk memahami
lingkungan.
Kurikulum 2013 disiapkan untuk
mencetak generasi yang siap di dalam menghadapi masa depan. Pergeseran
paradigma belajar abad 21 dan kerangka kompetensi abad 21 menjadi pijakan di
dalam pengembangan kurikulum 2013. Pengembangan kurikulum 2013 dapat
menghasilkan insan Indonesia yang :
Produktif, Kreatif, Inovatif, Dan Afektif , melalui:
Penguatan Sikap (Tahu Mengapa),
Keterampilan (Tahu Bagaimana), Dan Pengetahuan (Tahu Apa) Yang Terintegrasi.
Diakui dalam perkembangan kehidupan
dan ilmu pengetahuan abad 21, memang telah terjadi pergeseran baik ciri maupun
model pembelajaran. Inilah yang diantisipasi pada kurikulum 2013. Dalam
kurikulum 2013 ini, mata pelajaran IPA di tingkat Sekolah Menengah Pertama, mata
pelajaran IPA dikemas secara terintegrasi pada keilmuan IPA, terintegrasi
dengan pembentukan karakter. Perubahan pendidikan dan mindset para guru harus
didasarkan pada kecakapan/ketrampilan apa saja yang nantinya dibutuhkan oleh
para siswa di 21st century ini untuk dapat mencapai
partisipasi penuh di masyarakat.
Di era Abad 21, pembelajaran IPA sebaiknya
dilaksanakan secara: inkuiri ilmiah (scientific inquiry) dengan
pendekatan berpusat pada siswa (student centered learning)untuk
menumbuhkan kemampuan berpikir kreatif (creative thinking) dan
berpikir kritis (critical thinking), mampu memecahkan masalah, melatih kemampuan
inovasi dan menekankan pentingnya kolaborasi dan komunikasi. Keterampilan
berpikir yang dikembangkan sebaiknya sudah menjangkau keterampilan berpikir
tingkat tinggi (High Order Thinking Skills) yang jika dijangkau
dengan ranah kognitif pada Taksonomi Bloom berada pada level analisis,
sintesis, evaluasi dan kreasi. Sehingga pembelajaran harus sesuai dengan
karakter dan domain IPA yang meliputi domain konsep, proses, kreativitas, sikap
atau tingkah laku.
Menurut
Jennifer Nichols manajemen pendidikan abad 21 di kelompokkan ke dalam 4
prinsip, yaitu: Instruction should be student-centered, Education
should be collaborative, Learning should have context;
dan Schools should be integrated with society. Keempat prinsip
pokok pembelajaran abad ke 21 yang digagas Jennifer Nichols
tersebut dapat dijelaskan dan dikembangkan seperti berikut ini:
a. Instruction
should be student-centered
Pengembangan
pembelajaran seyogyanya menggunakan pendekatan pembelajaran yang berpusat pada
siswa. Siswa ditempatkan sebagai subyek pembelajaran yang secara aktif
mengembangkan minat dan potensi yang dimilikinya. Siswa tidak lagi dituntut
untuk mendengarkan dan menghafal materi pelajaran yang diberikan guru, tetapi
berupaya mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya, sesuai dengan
kapasitas dan tingkat perkembangan berfikirnya, sambil diajak berkontribusi
untuk memecahkan masalah-masalah nyata yang terjadi di masyarakat.
Pembelajaran
berpusat pada siswa bukan berarti guru menyerahkan kontrol belajar kepada siswa
sepenuhnya. Intervensi guru masih tetap diperlukan. Guru berperan sebagai
fasilitator yang berupaya membantu mengaitkan pengetahuan awal (prior knowledge)
yang telah dimiliki siswa dengan informasi baru yang akan dipelajarinya.
Memberi kesempatan siswa untuk belajar sesuai dengan cara dan gaya belajarnya
masing-masing dan mendorong siswa untuk bertanggung jawab atas proses belajar
yang dilakukannya. Selain itu, guru juga berperan sebagai pembimbing,
yang berupaya membantu siswa ketika menemukan kesulitan dalam proses
mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilannya.
b. Education
should be collaborative
Siswa harus
dibelajarkan untuk bisa berkolaborasi dengan orang lain. Berkolaborasi dengan orang-orang
yang berbeda dalam latar budaya dan nilai-nilai yang dianutnya. Dalam menggali
informasi dan membangun makna, siswa perlu didorong untuk bisa berkolaborasi
dengan teman-teman di kelasnya. Dalam mengerjakan suatu proyek, siswa perlu
dibelajarkan bagaimana menghargai kekuatan dan talenta setiap orang serta
bagaimana mengambil peran dan menyesuaikan diri secara tepat dengan mereka.
Begitu juga,
sekolah (termasuk di dalamnya guru) seyogyanya dapat bekerja sama dengan
lembaga pendidikan (guru) lainnya di berbagai belahan dunia untuk saling
berbagi informasi dan penglaman tentang praktik dan metode pembelajaran yang
telah dikembangkannya. Kemudian, mereka bersedia melakukan perubahan metode
pembelajarannya agar menjadi lebih baik.
c. Learning
should have context
Pembelajaran
tidak akan banyak berarti jika tidak memberi dampak terhadap kehidupan siswa di
luar sekolah. Oleh karena itu, materi pelajaran perlu dikaitkan dengan
kehidupan sehari-hari siswa. Guru mengembangkan metode pembelajaran yang
memungkinkan siswa terhubung dengan dunia nyata (real word). Guru
membantu siswa agar dapat menemukan nilai, makna dan keyakinan atas apa yang
sedang dipelajarinya serta dapat mengaplikasikan dalam kehidupan sehari-harinya.
Guru melakukan penilaian kinerja siswa yang dikaitkan dengan dunia nyata.
d. Schools
should be integrated with society
Dalam upaya
mempersiapkan siswa menjadi warga negara yang bertanggung jawab, sekolah
seyogyanya dapat memfasilitasi siswa untuk terlibat dalam lingkungan sosialnya.
Misalnya, mengadakan kegiatan pengabdian masyarakat, dimana siswa dapat belajar
mengambil peran dan melakukan aktivitas tertentu dalam lingkungan sosial. Siswa
dapat dilibatkan dalam berbagai pengembangan program yang ada di masyarakat,
seperti: program kesehatan, pendidikan, lingkungan hidup, dan sebagainya.
Selain itu, siswa perlu diajak pula mengunjungi panti-panti asuhan untuk
melatih kepekaan empati dan kepedulian sosialnya.
Dengan
kekuatan teknologi dan internet, siswa saat ini bisa berbuat lebih banyak lagi.
Ruang gerak sosial siswa tidak lagi hanya di sekitar sekolah atau tempat
tinggalnya, tapi dapat menjangkau lapisan masyarakat yang ada di berbagai
belahan dunia. Pendidikan perlu membantu siswa menjadi warga digital yang
bertanggung jawab.
KETERAMPILAN ABAD 21
Berbagai
organisasi mencoba merumuskan berbagai macam kompetensi dan keterampilan yang
diperlukan dalam menghadapi abad ke-21. Namun, satu hal penting yang perlu
diperhatikan adalah bahwa mendidik generasi muda di abad ke-21 tidak bisa hanya
dilakukan melalui satu pendekatan saja.
Wagner (2010) dan Change Leadership
Group dari Universitas Harvard mengidentifikasi kompetensi dan keterampilan
bertahan hidup yang diperlukan oleh siswa dalam menghadapi kehidupan, dunia
kerja, dan kewarganegaraan di abad ke-21 ditekankan pada tujuh (7)
keterampilan berikut:
(1) kemampuan berpikir kritis dan
pemecahan masalah,
(2) kolaborasi dan kepemimpinan,
(3)
ketangkasan dan kemampuan beradaptasi,
(4) inisiatif dan berjiwa
entrepeneur,
(5) mampu berkomunikasi efektif baik
secara oral maupun tertulis,
(6) mampu mengakses dan menganalisis
informasi, dan
(7) memiliki rasa ingin tahu dan
imajinasi
US-based Partnership for 21st
Century Skills (P21), mengidentifikasi kompetensi yang diperlukan di abad ke-21
yaitu “The 4Cs”- communication, collaboration, critical thinking, dan creativity. Delors
Report (1996) dari International Commission on Education for the Twenty-first
Century, mengajukan empat visi pembelajaran yaitu pengetahuan,
pemahaman, kompetensi untuk hidup, dan kompetensi untuk bertindak. Selain visi
tersebut juga dirumuskan empat prinsip yang dikenal sebagai empat pilar
pendidikan yaitu learning to know, lerning to do, learning
to be dan learning to live together.
Learning to Know
Belajar mengetahui merupakan kegiatan untuk
memperoleh, memperdalam dan memanfaatkan materi pengetahuan. Penguasaan materi
merupakan salah satu hal penting bagi siswa di abad ke-21. Siswa juga harus
memiliki kemauan untuk belajar sepanjang hayat.Pembelajaran di abad ke-21 hendaknya
lebih menekankan pada tema pembelajaran interdisipliner. Empat tema
khusus yang relevan dengan kehidupan modern adalah: 1) kesadaran
global; 2) literasi finansial, ekonomi, bisnis, dan kewirausahaan; 3) literasi
kewarganegaraan; dan 4) literasi kesehatan. Tema-tema ini perlu dibelajarkan di
sekolah untuk mempersiapkan siswa menghadapi kehidupan dan dunia kerja di masa
mendatang dengan lebih baik.
Learning to Do
Agar mampu menyesuaikan diri dan beradaptasi dalam
masyarakat yang berkembang sangat cepat, maka individu perlu belajar berkarya.
Siswa maupun orang dewasa sama-sama memerlukan pengetahuan akademik dan
terapan, dapat menghubungkan pengetahuan dan keterampilan, kreatif dan adaptif,
serta mampu mentrasformasikan semua aspek tersebut ke dalam keterampilan yang
berharga.
Learning to Be
Keterampilan akademik dan kognitif memang keterampilan
yang penting bagi seorang siswa, namun bukan merupakan satu-satunya
keterampilan yang diperlukan siswa untuk menjadi sukses. Siswa yang memiliki
kompetensi kognitif yang fundamental merupakan pribadi yang berkualitas dan
beridentitas. Siswa seperti ini mampu menanggapi kegagalan serta konflik dan
krisis, serta siap menghadapi dan mengatasi masalah sulit di abad ke-21. Secara
khusus, generasi muda harus mampu bekerja dan belajar bersama dengan beragam
kelompok dalam berbagai jenis pekerjaan dan lingkungan sosial, dan mampu
beradaptasi dengan perubahan zaman.
Learning to Live Together
Berbagai bukti menunjukkan bahwa
siswa yang bekerja secara kooperatif dapat mencapai level kemampuan yang lebih
tinggi jika ditinjau dari hasil pemikiran dan kemampuan untuk menyimpan
informasi dalam jangka waktu yang panjang dari pada siswa yang bekerja secara
individu. Belajar bersama akan memberikan kesempatan bagi siswa untuk terlibat
aktif dalam diskusi, senantiasa memantau strategi dan pencapaian belajar mereka
dan menjadi pemikir kritis.
REFERENSI
Trilling and Fadel. 2009. 21st century skills:
learning for life in our times. Jossey Bass: USA
Wagner, John A. & Hollenbeck, John R. 2010. Organizational
Behavior: Securing Competitive Advantage. New Yor: Routledge.
Berdasarkan artikel diatas penulis ingin berdiskusi bersama mengenai
beberapa pertanyaan antara lain:
1. Selain tujuh keterampilan dan kompetensi yang harus dimiiki oleh seorang pendidik (guru) untuk pembelajaran abad ke 21, menurut saudara apa
lagi yang harus dipersiapkan oleh guru agar
benar-benar siap menghadapi pembelajaran abad ke 21 tersebut?
2. Pemanfaatan
teknologi informasi dan komunikasi di dunia pendidikan menjadi
ciri utama pada
pendidikan abad 21. Jika kita sebagai seorang pendidik dihadapkan pada kondisi
sekolah yang terbatas pada sarana dan prasarana yang menunjang dalam pendidikan
abad 21, menurut pengalaman saudara, apakah usaha yang dapat kita lakukan agar
tidak tertinggal dibandingkan dengan sekolah memiliki fasilitas yang mamadai?
3. Menurut saudara, apakah pembelajaran
IPA pada kurikulum 2013 revisi 2016 yang telah diimpelementasikan saat ini
sudah dirancang sesuai dengan pembelajaran abad ke-21?
Rabu, 12 September 2018
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF dan KONTEKSTUAL
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF dan
KONTEKSTUAL
1. Pengertian Model Pembelajaran
Kolaboratif
Pembelajaran kolaboratif
didefenisikan sebagai falsafah tentang tanggung jawab pribadi dan sikap
menghormati sesama. Para pelajar bertanggung jawab atas belajar mereka sendiri
dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang
dihadapkan pada mereka. Guru bertindak sebagai fasilitator, memberikan dukungan
tetapi tidak menyetir kelompok kearah hasil yang sudah disiapkan sebelumnya.
Menurut Deutch dalam Mahmudi
(2006:61), pembelajaran kolaboratif adalah pembelajaran yang menggunakan
kelompok-kelompok kecil siswa yang bekerja sama untuk memaksimalkan hasil
belajar mereka. Lebih khusus, Gokhale (1995) mendefinisikan pembelajaran kolaboratif
sebagai pembelajaran yang menempatkan siswa dengan latar belakang dan kemampuan
yang beragam bekerja bersama dalam suatu kelompok kecil untuk mencapai tujuan
akademik bersama. Setiap siswa dalam suatu kelompok bertanggung jawab terhadap
sesama anggota kelompok. Dalam pembelajaran kolaboratif, siswa berbagi peran,
tugas, dan tanggung jawab guna mencapai kesuksesan bersama.
Pengertian pembelajaran kolaboratif
sering disamakan dengan pembelajaran kooperatif, meski ada juga yang
membedakannya. Misalnya, Panitz (1996) mendefinisikan pembelajaran
kooperatif sebagai sekumpulan proses yang dilakuan guru untuk membantu
siswa agar dapat berinteraksi sesamanya untuk mencapai tujuan spesifik
tertentu. Hal ini lebih menempatkan guru sebagai pengarah dan mengontrol
pembelajaran daripada memberikan kesempatan kepada siswa untuk
berkolaborasi (Mahmudi,2006:62)
2. Langkah-Langkah Pembelajaran Kolaboratif
Berikut ini langkah-langkah pembelajaran kolaboratif:
1.
Para siswa dalam kelompok
menetapkan tujuan belajar dan membagi tugas sendiri-sendiri.
2.
Semua siswa dalam kelompok
membaca, berdiskusi, dan menulis.
3.
Kelompok kolaboratif bekerja
secara bersinergi mengidentifikasi, mendemontrasikan, meneliti, menganalisis,
dan memformulasikan jawaban-jawaban tugas atau masalah dalam LKS atau masalah
yang ditemukan sendiri.
4.
Setelah kelompok kolaboratif
menyepakati hasil pemecahan masalah, masing-masing siswa menulis laporan
sendiri-sendiri secara lengkap.
5.
Guru menunjuk salah satu kelompok
secara acak (selanjutnya diupayakan agar semua kelompok dapat giliran ke depan)
untuk melakukan presentasi hasil diskusi kelompok kolaboratifnya di depan
kelas, siswa pada kelompok lain mengamati, mencermati, membandingkan hasil
presentasi tersebut, dan menanggapi. Kegiatan ini dilakukan selama lebih kurang
20-30 menit.
6.
Masing-masing siswa dalam
kelompok kolaboratif melakukan elaborasi, inferensi, dan revisi (bila
diperlukan) terhadap laporan yang akan dikumpulan.
7.
Laporan masing-masing siswa
terhadap tugas-tugas yang telah dikumpulkan, disusun perkelompok kolaboratif.
8.
Laporan siswa dikoreksi,
dikomentari, dinilai, dikembalikan pada pertemuan berikutnya, dan didiskusikan.
3. Karakteristik Pembelajaran
Kolaboratif
Beberapa karakteristik pembelajaran
kolaboratif, yakni:
1. Ketergantungan positif
Ketergantungan yang positif antarsiswa dalam suatu
kelompok menjadi prasyarat terjadinya kerja sama yang positif. Ketergantungan
positif akan terjadi jika setiap anggota kelompok menyadari bahwa seseorang
tidak dapat berhasil tanpa melibatkan keberhasilan anggota lainnya.
2. Interaksi
Interaksi antaranggota kelompok menjadi demikian
penting karena terdapat aktivitasaktivitas kognitif penting dan kecakapan
interpersonal yang dinamis hanya terjadi jika terdapat interaksi yang dinamis.
Aktivitas kognitif dan kecakapan interpersonal yang dinamis itu dapat dicapai
melalui berbagai aktivitas seperti mempresentasikan hasil diskusi, berbagi
pengetahuan dengan anggota kelompok lain, dan mengecek pemahaman. Adanya
interaksi antaranggota kelompok memungkinkan terwujudnya sistem dukungan
akademik, yakni setiap anggota mepunyai komitmen untuk membantu anggota
kelompok lain.
3. Pertanggungjawaban individu dan kelompok
Dalam pembelajaran kolaboratif, tidak hanya
keberhasilan kelompok saja yang menjadi perhatian, namun keberhasilan
setiap anggota kelompok sangat dipentingkan. Pembelajaran kolaboratif juga
dimaksudkan untuk membuat siswa kuat secara individual. Kelompok harus bertanggung
jawab dalam hal pencapaian tujuan dan masing-masing anggota kelompok harus
bertanggungjawab terhadap kontribusinya dalam kelompok. Pertanggungjawaban
individu hanya akan terjadi jika kinerja tiap individu dinilai dan hasilnya
diberikan kembali ke kelompok dan individu yang bersangkutan guna memastikan
anggota yang memerlukan bantuan, dukungan, atau penguatan belajar.
4. Pengembangan kecakapan interpersonal
Perlu disadari bahwa kecakapan sosial tidak secara
spontan tampak ketika pembelajaran kolaboratif dilaksanakan. Kecakapan sosial
seperti kepemimpinan (leadership), kemampuan membuat keputusan, membangun
kepercayaan, berkomunikasi, dan managemen konflik diharapkan dapat terbetuk
melalui pembelajaran kolaboratif yang kontinu dan berkesinambungan.
5. Pembentukan kelompok heterogen
Pembentukan kelompok dilakukan dengan mempertimbangkan
agar setiap anggota dapat berdiskusi sehingga mencapai tujuan mereka dan
membangun hubungan kerja yang efektif. Dalam pembentukan kelompok perlu
dideskripsikan tugas setiap anggota kelompok. Terdapat beberapa prinsip dalam
pembentukan kelompok kolaboratif, di antaranya perlunya mengakomodasi
heterogenitas siswa, seperti mengkombinasikan siswa yang pendiam dengan siswa
yang relatif mudah berkomunikasi, siswa yang rendah diri dan optimistis, siswa
yang mempunyai motivasi tinggi dan rendah diri.
6. Berbagi pengetahuan antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, diyakini pengetahuan
mengalir hanya dari guru ke
siswa. Tidak demikian halnya pada pembelajaran
kolaboratif. Dalam pembelajaran
kolaboratif, guru menghargai dan mengembangkan
pembelajaran berdasarkan pengetahuan, pengalaman pribadi, strategi, dan budaya
yang dibawa siswa.
7. Berbagi otoritas antara guru dan siswa
Pada pembelajaran tradisional, menetapkan tujuan
pembelajaran, mendesain tugastugas belajar, dan menilai (mengevaluasi) apa yang
telah dipelajari siswa menjadi otoritas guru secara dominan. Tidak demikian
halnya pada pembelajaran kolaboratif. Dalam kelas kolaboratif, guru berbagi
oritas dengan siswa dengan cara yang spesifik. Guru melibatkan siswa secara
aktif dalam penetapan tujuan belajar, pendesaian tugas-tugas, dan evaluasi
ketercapaian tujuan belajar.
8. Guru sebagai mediator
Dalam pembelajaran kolaboratif, guru berperan sebagai
mediator. Dalam hal ini guru
membantu siswa untuk menghubungkan pengetahuan baru
dengan pengetahuan yang telah dimiliki siswa, membantu siswa menggambarkan
mengenai apa yang harus dikerjakan ketika mereka mengalami masalah, dan
membantu siswa belajar bagaimana belajar (learn how to learn).
4. Evaluasi Pembelajaran Kolaboratif
Tidak mudah untuk mengevaluasi
pembelajaran kolaboratif. Evaluasi dapat dilakukan terhadap banyak aspek,
tidak hanya pada hasil belajar kognitif. Sebagai contoh, evaluasi dapat
dilakukan terhadap kemampuan siswa berdikusi. Karena memiliki keterbatasan
pengamatan, guru dapat memilih peer evaluation (penilaian teman sebaya).
Setiap siswa harus menilai teman sekelomponya terhadap beberapa aspek.
5. Kelebihan dan Kekurangan Model
Kolaboratif
a. Kelebihan
Ada banyak keunggulan yang bisa didapat dengan collaborative learning
oleh siswa antara lain:
1) melatih rasa peduli, perhatian dan
kerelaan untuk berbagi,
2) meningkatkan rasa penghargaan
terhadap orang lain,
3) melatih kecerdasan emosional,
4) mengutamakan kepentingan kelompok
dibandingkan kepentingan pribadi,
5) mengasah kecerdasan interpersonal,
6) melatih kemampuan bekerja sama, team
work,
7) murid tidak malu bertanya kepada
temannya sendiri,
8) meningkatkan motivasi dan suasana
belajar.
b. Kelemahan
Kelemahan yang dalam collaborative learning:
1.
Murid yang
lebih pintar, bila belum mengerti tujuan yang sesungguhnya dari proses belajar
ini, akan merasa sangat dirugikan karena harus repot-repot membantu temannya.
2.
Murid ini
juga akan merasa keberatan karena nilai yang ia peroleh ditentukan oleh
prestasi atau pencapaian kelompoknya.
3.
Bila kerja
sama tidak dapat dijalankan dengan baik, maka yang akan bekerja hanyalah
beberapa murid yang pintar dan aktif saja.
MODEL PEMBELAJARAN KONTEKSTUAL
1. Pengertian Pembelajaran Kontekstual
(CTL : Contextual Teaching and Learning)
Pembelajaran kontekstual merupakan pembelajaran yang mengkaitkan materi
pembelajaran dengan konteks dunia nyata yang dihadapi siswa sehari-hari baik
dalam lingkungan keluarga, masyarakat, alam sekitar dan dunia kerja, sehingga
siswa mampu membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.
Pembelajaran Konstekstual
(Contextual Teaching and Learning) adalah konsep belajar yang membantu guru
mengaitkan antara materi yang diajarkannya dengan situasi dunia nyata siswa dan
mendorong siswa membuat hubungan antara pengetahuan yang dimilikinya dengan
penerapannya dalam kehidupan mereka sehari-hari, dengan melibatkan tujuh
komponen utama pembelajaran efektif, yakni : konstruktivisme (Constructivism),
bertanya (Questioning), menemukan (Inquiry), masyarakat belajar (Learning
Conzmunity), pemodelan (Modeling), refleksi (reflection), dan penilaian
sebenarnya (Aunthentic Assesment) (Darmadi, 2017:341)
Sistem pembelajaran kontekstual
adalah proses pendidikan yang bertujuan membantu siswa melihat makna dalam
materi akademik yang mereka pelajari dengan jalan menghubungkan mata pelajaran
dengan akademik dengan isi kehidupan sehari-hari, yaitu dengan konteks
kehidupan pribadi, sosial dan budaya. Pembelajaran kontekstual sebagai suatu
model pembelajaran yang memberikan fasilitas kegiatan belajar siswa untuk
mencari, mengolah,dan menemukan pengalaman belajar yang bersifat konkret
melalui keterlibatan aktivitas siswa dalam mencoba, melakukan, dan mengalami
sendiri. Dengan demikian, pembelajaran tidak sekedar dilihat dari sisi produk,
akan tetapi yang terpenting adalah proses (Rusman, 2017:322).
Beberapa karakteristik Pembelajaran
Berbasis Contextual Teaching and Learning (Sihono,200:80);
a. Kerjasama
b. Saling menunjang
c. Menyenangkan, tidak membosankan
d. Belajar dengan gairah
e. Pembelajaran terintegrasi
f. Menggunakan berbagai sumber
g. Siswa aktif
h. Sharing dengan teman
i.
Siswa
Kritis, dan Guru Kreatif
j.
Dinding
kelas & lorong-lorong penuh dengan hasil karya siswa, peta-peta, gambar,
artikel, humor, dan lain sebagainya
k. Laporan kepada orang tua bukan hanya
rapor, tetapi hasil karya siswa, laporan hasil praktikum, karangan siswa,
dan sebagainya.
2. Komponen Pembelajaran Kontekstual
Ada tujuh komponen utama dalam pembelajaran
kontekstual, yaitu:
a. Constructivism (Konstruktivisme)
Kontrukstivisme merupakan landasan
berpikir pendekatan CTL, yaitu pengetahuan dibangun oleh manusia
sedikit demi sedikit, yang hasilnya diperkuat melalui konteks yang
terbatas (sempit) dan tidak tiba-tiba. Dalam konteks pembelajaran, konstruktivisme lebih
menekankan pada aktivitas siswa dalam menemukan pemahaman mereka
sendiri daripada kemampuan menghafal teori-teori yang ada dalam
buku pelajaran saja. Pada umumnya cara menerapkan komponen ini
dalam pembelajaran adalah dengan merancang pembelajaran dalam bentuk siswa
bekerja, praktik mengerjakan sesuatu, berlatih secara fisik, menulis karangan,
menciptakan ide dan lain sebagainya.
b. Inquiry (Menemukan)
Menemukan merupakan bagian inti dari
pembelajaran berbasis CTL, artinya proses pembelajaran didasarkan pada
pencapaian dan penemuan melalui proses berpikir secara sistematis. Inkuiri
merupakan proses perpindahan dari pengamatan menjadi pemahaman, dalam proses
ini siswa belajar menggunakan keterampilan berpikir kritis untuk memperoleh seperangkat
pengetahuan. Untuk merealisasikan komponen inkuiri di kelas, terutama dalam
proses perencanaan guru bukanlah mempersiapkan sejumlah materi yang harus
dihafal siswa, akan tetapi merancang pembelajaran yang memungkinkan siswa dapat
menemukan sendiri materi yang harus dipahaminya. Siklus inkuiri pada umumnya
meliputi: observasi (observation), bertanya (questioning),
mengajukan dugaan (hypothesis), pengumpulan data (collecting data),
dan penyimpulan (conclusion).
c. Questioning (Bertanya)
Semua ilmu pengetahuan yang dimiliki
seseorang selalu bermula dari bertanya. Salah satu faktor psikologi yang
mendorong seseorang untuk belajar adalah adanya sifat ingin tahu dan ingin
menyelidiki apa yang ada dalam kehidupan di dunia yang lebih luas. Bertanya
merupakan kegiatan yang sangat pokok dan mendasar bagi guru maupun siswa dalam
pembelajaran berbasis CTL. Bertanya merupakan kegiatan utama dari semua
aktivitas belajar, karena dengan kegiatan bertanya guru dapat memotivasi bahkan
bisa menilai sejauh mana keberanian dan kemampuan berpikir seorang siswa dalam
mengkonstruk pengetahuan dan pemahaman yang ingin didapatkannya.
Sedangkan bagi siswa kegiatan
bertanya adalah hal penting yang perlu dilakukan dalam pembelajaran berbasis
CTL, yakni untuk menggali informasi, mengkonfirmasikan apa yang sudah
diketahui, dan me ngarahkan perhatian pada aspek yang belum diketahuinya.
Kegiatan bertanya merupakan interaksi majemuk (multiple interactions) antara
guru dengan siswa, siswa dengan guru, siswa dengan siswa, dan antara siswa
dengan orang berpengetahuan lainnya. Aktivitas-aktivitas tesebut dapat terlihat
jelas pada saat diskusi, kegiatan dalam komunitas/masyarakat belajar, bekerja
secara berpasangan (work in pairs or in group), dan lain
sebagainya. Dalam pembelajaran, kegiatan questioning memiliki
banyak sekali kegunaan diantarnya adalah untuk:
1) menggali informasi, baik yang
bersifat administrasi maupun akademis
2) mengecek tingkat pemahaman siswa
3) membangkitkan respon siswa
4) mengukur sejauh mana rasa
keingintahuan siswa
5) mengetahui hal-hal yang belum
diketahui siswa
6) memfokuskan perhatian siswa pada
sesuatu yang dikehendaki guru
7) memberikan stimulus agar siswa bisa
memiliki pertanyaan-pertanyaan yang kreatif, menarik dan menantang
8) menyegarkan kembali pengetahuan
siswa.
d. Learning Community/Society (Kelompok/Masyarakat
belajar)
Leo Semenovich Vygotsky, seorang
psikolog Rusia, menyatakan bahwa pengetahuan dan pemahaman anak banyak ditopang
oleh komunikasi dengan orang lain. Begitu juga dalam kehidupan, suatu permasalahan
tidak mungkin dapat dipecahkan sendiri, tetapi membutuhkan bantuan dan peran
orang lain yakni dalam bentuk kerjasama, saling memberi dan menerima. Learning community/society adalah kelompok manusia yang
terlibat dalam kegiatan pembelajaran, yang membuat mereka bisa saling bertukar
ide dan pengetahuan untuk memperdalam pemahaman terhadap pengetahuan yang
mereka miliki. Konsep ini didasarkan pada sebuah gagasan bahwa hasil
pembelajaran yang dicapai dengan kerjasama/teamwork akan jauh lebih
baik dibandingkan dengan hasil pencapaian individu.
Hasil belajar dalam proses learning
community dapat diperoleh dengan carasharing antar teman,
antar kelompok; yang sudah tahu memberi tahu kepada yang belum tahu, yang
pernah memiliki pengalaman membagikan pengalamannya pada orang lain, juga
melalui informasi yang didapat di ruang kelas, luar kelas, keluarga, serta
masyarakat di lingkungan sekitar yang merupakan bagian dari komponen masyarakat
belajar. Dalam kelas CTL, learning community terlihat saat siswa
belajar secara berkelompok. Pada umumnya siswa dibagi dalam kelompok yang
anggotanya heterogen, baik dari segi kemampuan akademisnya, jenis kelamin, asal
daerah, dan lain sebagainya.
Model pembelajaran dengan teknik
learning community sangat membantu proses pembelajaran di kelas. Praktiknya
dalam pembelajaran terwujud dalam (Sihono, 2004:78) :
1) pembentukan kelompok kecil
2) pembentukan kelompok besar
3) mendatangkan ahli, tokoh, olahragawan, dokter,
perawat, petani, polisi, tukang kayu, teknisi, dan sebagainya ke kelas
4) bekerja dengan kelas sederajat
5) bekerja kelompok dengan kelas di
atasnya
6) bekerja dengan masyarakat.
e. Modelling (Pemodelan)
Modelling atau pemodelan adalah sebuah
pembelajaran keterampilan atau pengetahuan tertentu, dengan menyediakan model
yang bisa diamati dan ditiru oleh setiap siswa. Misalnya: guru fisika
memberikan contoh bagaimana cara mengoperasikan sebuah alat, guru bahasa
mengajarkan bagaimana cara melafalkan sebuah kalimat asing, guru olahraga
memberikan contoh bagaimana cara melempar bola, dan lain sebagianya. Dalam
kelas CTL, kegiatan modelling tidak menjadikan guru sebagai
satusatunya model dalam belajar, tetapi dapat juga memanfaatkan siswa yang
dianggap memiliki kemampuan untuk memperagakan/mendemonstrasikan sesuatu di depan
kelas kepada teman-temannya, seorang ahli yang didatangkan di kelas, media
belajar dan lain-lain.
Perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi, rumitnya permasalahan hidup yang dihadapi, tuntutan siswa yang
semakin berkembang dan beraneka ragam, telah berdampak pada kemampuan guru yang
memiliki kemampuan lengkap, dan ini yang sulit dipenuhi. Oleh karena itu, maka
kini guru bukan lagi satu-satunua sumber belajar bagi siswa, karean dengan
segala kelebihan dan keterbatasan yang dimiliki oleh guru akan mengalami
hambatan untuk memberikan pelayanan sesuai dengan keinginan dan kebutuhan siswa
yang cukup heterogen. Oleh karena itu, tahap pembuatan model dapat dijadikan
alternatif untuk mengembangkan pembelajaran agar siswa bisa memenuhi harapan
siswa secara menyeluruh, dan membantu mengatasi keterbatsan yang dimiliki oleh
para guru (Rusman, 2017:328).
f. Reflection (Refleksi)
Refleksi berarti upaya think
back (berpikir ke belakang) atau kegiatan flash back,
yakni berpikir tentang apa yang sudah dilakukan di masa lalu, dan berpikir
tentang apa yang baru dipelajari dalam sebuah pembelajaran oleh siswa
(Risman,2017: 328). Dalam hal ini siswa mengendapkan apa yang baru
dipelajarinya sebagai struktur pengetahuan yang baru, yang merupakan pengayaan
atau revisi dari pengetahuan sebelumnya. Dengan kata lain, refleksi merupakan respon terhadap
kejadian, aktivitas, atau pengetahuan yang baru diterima.
g. Authentic
Assessment (Penilaian Sebenarnya)
Assessment adalah proses pengumpulan berbagai
data yang bisa memberikan gambaran pengetahuan perkembangan belajar siswa.
Gambaran perkembangan belajar siswa perlu diketahui oleh guru agar bisa
memastikan bahwa siswa mengalami proses pembelajaran dengan benar. Gambaran
kemajuan belajar siswa, diperlukan sepanjang proses pembelajaran, maka
penilaian autentik tidak hanya dilakukan di akhir periode (akhir semester)
tetapi dilakukan secara terintegrasi dan secara terus-menerus selama kegiatan
pembelajaran berlangsung. Penilaian yang dilakukan menekankan pada proses pembelajaran,
maka data yang terkumpul harus diperoleh dari kegiatan nyata yang dikerjakan
siswa pada saat melakukan proses pembelajaran.
Menurut Mihmidaty dalam Amali
(2012) Penilaian ini memberi isyarat pada para pendidik agar dapat melaksanakan
penilaian dengan didukung data yang valid,reliable, dan menyeluruh
sehingga hasil yang diperoleh dari penilaian kelas CTL dapat memenuhi sasaran
untuk mencapai tujuan pendidikan dengan sebaik-baiknya. Dalam kelas CTL, pada
umumnya terdapat empat jenis penilaian autentik, yakni:portofolio, pengukuran
kinerja, proyek, dan jawaban tertulis.
3. Skenario Pembelajaran Kontekstual
Menurut Rusman (2017:323) Sebelum
melaksanakan pembelajaran dengan menggunakan pembelajaran kontekstual, tentu
saja guru terlebih dahulu membuat desain/skenario pembelajarannya, sebagai
pedoman umum sekaligus sebagai alat kontrol dalam pelaksanaannya. Pada intinya,
setiap pengembangan komponen pembelajaran kontekstual tersebut dalam
pembelajaran dapat dilakukan melalui langkah-langkah berikut:
1. Mengembangkan pemikiran siswa untuk
melakukan kegiatan belajar lebih bermakna dengan apakah dengan cara kerja
sendiri, menemukan sendiri, dan mengkontruksi sendiri pengetahuan dan
keterampilan baru yang harus akan dimilikinya.
2. Melaksanakan
sejauh mungkin kegiatan Inguiry untuk semua topik yang diajarkan.
4.
Mengembangkan
sifat ingin tahu siswa melalui memunculkan pertanyaan-pertanyaan.
5.
Menciptakan
masyarakat belajar, seperti melalui kegiatan berdiskusi, dan tanya jawab.
6.
Menghadirkan
model sebagai contoh pembelajaran, bisa melalui ilustrasi, model bahkan media
sebenarnya.
7.
Membiasakan
anak untuk melakukan refleksi dari setiap kegiatan pembelajaran yang telah
dilakukan.
8.
Melakukan
penilaian secara objektif, yaitu menilai kemampuan yang sebanrnya pada setiap
siswa
Secara umum, tidak ada perbedaan
mendasar antara format program pembelajaran konvensional seperti yang biasa
dilakukan oleh guru-guru selama ini. Adapun yang membedakannya, terletak pada
penekannanya, dimana pada model konvensional lebih menekankan pada deskipsi
tujuan yang akan dicapai (jelas dan operasional), sementara program
pembelajaran kontekstual lebih menekankan skenario pembelajarannya, yaitu tahap
demi tahap yang dilakukan oleh guru dan siswa dalam upaya mencapai tujuan
pembelajaran yang diharapkan.
Oleh karena itu, program
pembelajaran kontekstual (CTL) hendaknya (Rusman,2017:330):
1. Nyatakan kegiatan utama
pembelajarannya, yaitu sebuah pernyataan kegiatan siswa yang merupakan gabungan
antara kompetensi dasar, materi pokok, dan indikator pencapaian hasil belajar.
2. Rumuskan dengan jelas tujuan umum
pembelajarannya.
3. Uraikan secara terperinci media dan
sumber pembelajaran yang akan digunakan untuk mendukung kegiatan pembelajaran
yang diharapkan.
4. Rumuskan skenario tahap demi tahap
kegiatan yang harus dilakukan siswa dalam melakukan prses pembelajarannya,
5. Rumuskan dan lakukan sistem
penilaian dengan menfokuskan pada kemampuan sebenarnya yang dimiliki oleh siswa
baik pada saat berlangsungnya (proses) maupun setelah siswa tersebut selesai
belajar.
4. Kelebihan dan Kekurangan CTL (Contextual
Teaching and Learning)
a. Kelebihan
1) Pembelajaran menjadi lebih bermakna dan riil
Artinya siswa dituntut untuk dapat
menangkap hubungan antara pengalaman belajar di sekolah dengan kehidupan nyata.
Hal ini sangat penting, sebab dengan dapat mengorelasikan materi yang ditemukan
dengan kehidupan nyata, bukan saja bagi siswa materi itu akan berfungsi secara
fungsional, akan tetapi materi yang dipelajarinya akan
tertanam erat dalam memori siswa, sehingga tidak akan
mudah dilupakan.
2) Pembelajaran lebih produktif
Pembelajaran CTL, mampu menumbuhkan
penguatan konsep kepada siswa karena metode pembelajaran CTL menganut aliran
konstruktivisme, yang mengarahkan siswa untuk menemukan pengetahuannya sendiri.
Melalui landasan filosofis konstruktivisme siswa diharapkan dapat belajar
melalui mengalami bukan menghafal
b. Kekurangan
Kekurangan pembelajaran kontekstual
diantaranya adalah orientasi yang melibatkan siswa sehingga guru harus memahami
secara mendasar tentang perbedaan potensi individu tiap-tiap siswa.
Pembelajaran ini pada dasarnya membutuhkan berbagai sarana dan media yang
variatif. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka baik guru maupun siswa perlu
melakukan upaya berikut:
1) Bagi Guru
Guru harus memiliki kemampuan untuk
memahami secara mendalam tentang konsep pembelajaran itu sendiri, potensi
perbedaan individu siswa dikelas, beberapa pendekatan pembelajaran yang
berorientasi kepada aktivitas siswa dan sarana, media, alat bantu serta
kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas siswa dalam belajar.
2) Bagi Siswa
Diperlukan inisiatif dan kreativitas
dalam belajar, diantaranya: memiliki wawasan pengetahuan yang memadai dari
setiap mata pelajaran, adanya perubahan sikap dalam menghadapi persoalan dan
memiliki tanggung jawab yang tinggi dalam meyelesaikan tugas – tugas.
Penulis menyampaikan pertanyaan
kepada pembecMenurut pembaca:
1.
Menurut
pengalaman saudara, apakah model pembelajaran kolaboratif dan model
pembelajaran kontekstual bisa digunakan secara bersamaan? Khususnya pada
pembelajaran biologi
2. Menurut saudara materi biologi apa
saja yang bisa diterapkan dengan menggunakan model pembelajaran kolaboratif
atau model pembelajaran kontekstual?
3.
Diantara
kedua model tersebut manakah yang lebih efektif untuk digunakan jika situasi
sarana dan prasarana sekolah yang terbatas?
Mahmudi, A. 2013. Pembelajaran Kolaboratif.Yogyakarta: Pendidikan Matematika UNY
Rusman .2017. Belajar
dan Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana
Langganan:
Postingan (Atom)
MODEL PEMBELAJARAN KHUSUS SAINS
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Mode...
-
MODEL PEMBELAJARAN KOLABORATIF dan KONTEKSTUAL 1. Pengertian Model Pembelajaran Kolaboratif Pembelajaran kolaboratif didefeni...
-
Model pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas. Mode...